Enam bulan sudah aku menjadi seorang istri. Enam bulan juga aku meninggalkan Purwokerto. Kota dimana kuhabiskan masa kecilku hingga aku menikah. Bahkan seluruh masa akhwatku semua kulalui di kota nan SATRIA itu. Saat ini, di kota yang kata orang istimewa ini [baca:Yogyakarta], aku tak bisa melupakan masa-masa akhwatku di Purwokerto. Penuh semangat, ceria, penuh warna, bahagia walaupun terkadang juga terselip rasa lelah, sedih, air mata dan sejuta rasa lainnya. Hari-hari itu kulewati seolah tak mengijinkanku untuk sejenak beristirahat. Masa-masa pasca lulus kuliah yang penuh tantangan. Agenda-agenda dakwah, mengajar bimbel sebagai kesibukan agar orang tua melihat bahwa aku "bekerja", tuntutan orang untuk segera menikah dan berkarir sesuai ijazah s2 ku. Hmm..kunikmati masa-masa itu selama 2 tahun. Nikmat benar rasanya, walau sesekali di tengah penatnya hari, diantara setumpuk masalah yang datang, di sela-sela lelahnya fisik yang tak jarang juga pulang hingga malam, terkadang mata ini basah dan hati ini berteriak "Kapan semua ini usai? Kapan Alloh hadirkan seorang laki-laki yang akan menjadi imamku?".
Pikirku saat itu simple, dengan menikah selesai sudah semua masalah. Aku tidak harus pergi pagi pulang malam untuk berbagai macam aktivitas yang begitu melelahkan itu.
Dan benar, setelah menikah sepanjang hari kuhabiskan waktuku di rumah. Walaupun sebenernya aktivitas dakwah dan mengajar tetap aku jalani. Tapi semua itu tak sepadat dulu. Kalo dulu semasa akhwat, tiada hari tanpa keluar rumah untuk urusan dakwah, saat ini sepekan mungkin hanya 2 atau 3 kali saja. Kalo dulu keluar rumah untuk mengajar sehari bisa sampai 4 atau 5 tempat, sekarang sehari paling sekali dan itu pun dirumah.
Aku menyesal karenda dulu pernah terbersit dalam hati sebuah pertanyaan "kapan semua ini usai?" Karena kini, aku benar-benar merindukan masa akhwatku. Masa dimana sepanjang hari tidak ada waktu untuk istirahat. Dulu tangisku ingin semua itu usai. Kini tangisku justru karena merindukan masa itu. Hmm...6 bulan masih kurang buatku untuk beradaptasi dengan aktivitas sebagai seorang istri yang lebih banyak memanfaatkan waktu di rumah. Dulu semasa akhwat, bisa berangkat jam 7 pagi pulang jam 7 malam, sekarang sejak pagi hingga pagi lagi tinggal di dalam rumah. Harus kreatif dalam memanfaatkan waktu di rumah untuk hal-hal positif. Bekal yang diperoleh semasa akhwat harus dijadikan modal untuk mengembangkan diri setelah menjadi ummahat. Dan pesanku untuk para akhwat, nikmati dan nikmati masa-masa akhwatmu, karena itu nanti yang akan sangat dirindukan. Maksimalkan peranmu sebagai seorang hamba Alloh, sebagai murabbiyah dan sebagai seorang anak. Jangan katakan kapan semua ini usai? Karena ketika usai, justru kita akan sangat merindukannya dan ingin kembali ke masa itu.
#Mungkin kalo sudah jadi umi, gak segitunya merasa kesepian karena ada dedek yang menemani. Buat dedek yang masih di perut umi, umi tunggu kehadiranmu sayang..kita akan habiskan banyak waktu kita bersama-sama..
Tingginya Kesungguhan Seorang Perempuan yang Sangat Ingin Menggapai Ridlo Rabb-nya
Tampilkan postingan dengan label muslimah corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah corner. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Januari 2014
Jangan Katakan "Kapan Semua Ini Usai?"
Sabtu, 25 Mei 2013
Rindu
Aku bersama mereka tapi aku rindu. Sehari semalam kita bercengkerama tapi rindu semakin terasa. Kulihat canda tawa mereka, ku semakin tahu kalau aku rindu mereka. Aku di sini, merekapun di sini, tapi rasa rindu ini tak terganti. Rindu....sungguh ini rindu....ini bukan cemburu, tapi benar-benar rindu. I miss you....biarlah kutitipkan rindu ini hanya padaNya dan Dia-lah yang akan menyampaikan rasa rindu ini pada mereka :'(
Sabtu, 06 Oktober 2012
Shalihah Tidak Mutlak Tergantung Suami
Kalau ngomongin istri/wanita durhaka, kita sering disuguhi kisah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Mereka adalah dua orang wanita yang menjadi perumpamaan wanita kafir (Q.S. At-Tahrim:10).
Dan ketika membahas wanita sholihah, kita sering mendapati kisah Asiyah istri Fir'aun dan Maryam ibunda Nabi Isa. Mereka adalah perumpamaan bagi wanita beriman (Q.S. At-Tahrim:11-12).
Cermatilah kisah mereka. Ada siapa di sisi kedua istri durhaka itu? Ya, ada manusia sholih yang telah Alloh utus menjadi nabi, yaitu Nuh dan Luth. Dan ada siapa di sisi wanita sholihah Asiyah? Ya, ada manusia durhaka bernama Fir'aun yang mengaku dirinya sebagai tuhan. Dan siapa di sisi Maryam? Beliau menjadi wanita sholihah tanpa ada laki-laki (suami) di sisinya.
Dari keempat wanita yang kisahnya Alloh abadikan dalam Al-Qur'an itu, aku ingin mengatakan bahwa menjadi seorang muslimah sholihah tidak mutlak tergantung pada siapa laki-laki yang mendampinginya. Tidak ada istilah "suargo nunut neroko katut".
Memang benar dalam rumah tangga laki-laki adalah qowam. Alhamdulillah ketika laki-laki yang menjadi pemimpin kita adalah yang bisa selalu mengingatkan kita, selalu semangat dalam dakwah, selalu membimbing dan mengarahkan kita. Namun, ketika yang Alloh takdirkan pada kita tidaklah demikian, bukan berarti wanita tersebut gak bisa maju. Jangan sampe, istri yang punya banyak potensi yang bermanfaat untuk ummat, terkendala geraknya lantaran suami yang gak punya semangat ngaji apalagi memberi kontribusi bagi ummat.
Itulah perlunya memaksimalkan pembinaan ketika masa akhwat. Jodoh adalah rahasia Alloh, ketika kita dipertemukan dengan yang lebih baik dari kita, itu berarti peluang bagi akhwat untuk terdongrak, jangan malah menjadi penghalang melesatnya prestasi suami. Ketika yang dipertemukan dengan kita adalah yang sekufu, saatnya menjadi partner yang saling memotivasi. Dan ketika yang dipertemukan dengan kita sedikit di bawah kita kefahamannya [tapi ingat ukhti, hilangkan kesombonganmu ketika ini terjadi karena bisa dengan cepat suamimu kelak akan lebih paham darimu], maka saatnya engkau menjadi pendongkrak suamimu kelak. Tapi janganlah menyetir, karena laki-laki tidak suka disetir. Jadilah navigator yang selalu mengarahkan. Dengan kesabaranmu tidak menutup kemungkinan prestasi suamimu akan melejit. Tapi ketika suami justru enggan diajak melaju, janganlah semua itu menghalangimu untuk bergerak, untuk berdakwah dan berkontribusi bagi ummat.
Jadi, menjadi istri sholihah tidaklah mutlak tergantung pada suami. Mumpung masih akhwat, bekali...bekali...dan teruuuus bekali diri. Terus perbaiki diri dan minta pada Alloh agar dipertemukan dengan yang terbaik.
Dan ketika membahas wanita sholihah, kita sering mendapati kisah Asiyah istri Fir'aun dan Maryam ibunda Nabi Isa. Mereka adalah perumpamaan bagi wanita beriman (Q.S. At-Tahrim:11-12).
Cermatilah kisah mereka. Ada siapa di sisi kedua istri durhaka itu? Ya, ada manusia sholih yang telah Alloh utus menjadi nabi, yaitu Nuh dan Luth. Dan ada siapa di sisi wanita sholihah Asiyah? Ya, ada manusia durhaka bernama Fir'aun yang mengaku dirinya sebagai tuhan. Dan siapa di sisi Maryam? Beliau menjadi wanita sholihah tanpa ada laki-laki (suami) di sisinya.
Dari keempat wanita yang kisahnya Alloh abadikan dalam Al-Qur'an itu, aku ingin mengatakan bahwa menjadi seorang muslimah sholihah tidak mutlak tergantung pada siapa laki-laki yang mendampinginya. Tidak ada istilah "suargo nunut neroko katut".
Memang benar dalam rumah tangga laki-laki adalah qowam. Alhamdulillah ketika laki-laki yang menjadi pemimpin kita adalah yang bisa selalu mengingatkan kita, selalu semangat dalam dakwah, selalu membimbing dan mengarahkan kita. Namun, ketika yang Alloh takdirkan pada kita tidaklah demikian, bukan berarti wanita tersebut gak bisa maju. Jangan sampe, istri yang punya banyak potensi yang bermanfaat untuk ummat, terkendala geraknya lantaran suami yang gak punya semangat ngaji apalagi memberi kontribusi bagi ummat.
Itulah perlunya memaksimalkan pembinaan ketika masa akhwat. Jodoh adalah rahasia Alloh, ketika kita dipertemukan dengan yang lebih baik dari kita, itu berarti peluang bagi akhwat untuk terdongrak, jangan malah menjadi penghalang melesatnya prestasi suami. Ketika yang dipertemukan dengan kita adalah yang sekufu, saatnya menjadi partner yang saling memotivasi. Dan ketika yang dipertemukan dengan kita sedikit di bawah kita kefahamannya [tapi ingat ukhti, hilangkan kesombonganmu ketika ini terjadi karena bisa dengan cepat suamimu kelak akan lebih paham darimu], maka saatnya engkau menjadi pendongkrak suamimu kelak. Tapi janganlah menyetir, karena laki-laki tidak suka disetir. Jadilah navigator yang selalu mengarahkan. Dengan kesabaranmu tidak menutup kemungkinan prestasi suamimu akan melejit. Tapi ketika suami justru enggan diajak melaju, janganlah semua itu menghalangimu untuk bergerak, untuk berdakwah dan berkontribusi bagi ummat.
Jadi, menjadi istri sholihah tidaklah mutlak tergantung pada suami. Mumpung masih akhwat, bekali...bekali...dan teruuuus bekali diri. Terus perbaiki diri dan minta pada Alloh agar dipertemukan dengan yang terbaik.
Rabu, 15 Agustus 2012
Akhi...Ukhti...Apa kabar hatimu?
Hati...adalah organ ajaib yang mudah berbolak balik. Hingga Rosul pun mengajarkan pada kita sebuah doa agar Alloh meneguhkan hati kita pada dinNya, "yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi 'alaa diinika".
Penyakit yang mengakibatkan hati kita sakit bisa menyerang siapa saja, termasuk laki-laki dan perempuan yang mendapat predikat aktivis dakwah. Salah satu penyebab yang membuat hati para aktivis dakwah sakit adalah virus merah jambu. Yang pelan tapi pasti virus itu menggerogotinya hingga hilang rasa malunya melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat dan dibenci Alloh. Astaghfirullohal'adzim...
Penyakit itu bisa berawal dari sebuah interaksi yang awalnya masing-masing menganggap biasa-biasa saja. Interaksi dalam sebuah organisasi dakwah, dalam kepanitian acara-acara keislaman, dalam program kampus seperti KKN, membuat mereka saling berkomunikasi dan saling mengetahui personal si ikhwan maupun akhwat. Awalnya cuma mengirim sms undangan rapat, sms karena memang darurat karena teknis sebuah acara atau ketemuan karena menyerahkan berkas-berkas atau ketemuan membahas suatu program. Ternyata sms dan pertemuan itu gak berhenti sampai disitu. Syaithan sangat lihai menggoda dua orang yang sedang saling jatuh cinta. Syaithan menghias kemaksiatan dengan keindahan. Mereka ikhwan dan akhwat aktivis dakwah menjadi sasaran empuk si syaithan yang gak pantang menyerah. Ditambah dengan berkembangnya teknologi, peluang kemaksiatan akan terbuka lebih lebar. Ada fb, twitter, YM atau yang lain yang membuat komunikasi semakin intens bahkan bisa saling melihat melalui webcam tanpa ada orang lain yang tau[sesaat mereka lupa ada Alloh dan malaikat yang tak pernah alpa mengawasinya]. Astaghfirulloh...
Syaithan menjadikan si ikhwan dan akhwat itu mengikuti hawa nafsunya, menjalin hubungan yang tidak selayaknya dilakukan aktivis islam militan. Mereka selayaknya berpacaran. Sms atau telepon selalu dinantikan dari ikhwan atau akhwat yang dia sukai. Panggilan akhi dan ukhti tergantikan dengan mas dan dek. Janjian ketemuan gak cuma untuk rapat tapi juga untuk sesuatu yang gak penting, sekedar jalan berdua. Berkhalwat sudah berani dilakukan diam-diam karena takut ketahuan teman-teman ngajinya atau bahkan murobbinya. Syaithan berhasil menggoda mereka dan mereka yang sedang terjerat cinta gak menyadari itu, seperti orang mabuk yang tak sadarkan diri. Teman yang mengingatkan dan memberinya nasihat dianggap angin lalu saja.
Beberapa kali membantu menyelesaikan masalah akhwat yang lagi kena VMJ, mereka akan sulit untuk kembali tersadarkan kalo mereka gak punya azzam yang kuat. Ketika yang terkena virus itu adalah adek yang baru ngaji, aku menganggap itu wajar[wajar disini bukan bentuk pelegalan] karena ilmu mereka yang masih harus terus ditambah. Namun dengan pendampingan yang terus menerus dari mba-mba nya dan motivasi untuk bisa menjadi lebih baik, pelan-pelan dia bisa sembuh dari sakit yang disebabkan virus merah jambu itu. Tapi secara pribadi aku tidak bisa mentolerir ketika itu dialami oleh ikhwan akhwat yang sudah pada tingkatan paham dan militan. Yang hobinya ngisi pengajian, yang sukanya tampil di depan untuk ngasih motivasi agar adek-adeknya menjadi muslim-muslimah militan, yang kalo ngomongin dakwah dan jihad semangatnya luar biasa dan selalu di barisan terdepan. Na'udzubillah...akhi dan ukhti...sadarlah!!! Kalian adalah qudwah bagi adek-adekmu...malulah kalian pada Alloh...sadarlah bahwa itu adalah kemaksiatan yang dibenci oleh Alloh...segeralah perbaiki diri...lawanlah virus itu...nasehat-nasehat dari orang-orang di sekitarmu gak akan ada artinya ketika kalian sendiri tidak punya kekuatan untuk mengakhiri kemaksiatan itu.
Lalu pa solusinya? Menurutku sangat mudah, tapi buat yang sedang terjangkiti virus ini mungkin sangatlah susah. Satu solusinya, tutup semua akses untuk komunikasi. Baik sms, telepon, fb, email, chatting, video call dan yang lain. Ganti nomor handphone mu, hapus semua akun media sosialmu. Tanpa komunikasi aku yakin akan lebih mudah melupakannya. Memutuskan komunikasi tidak akan bertahan lama kalo gak ada kesungguhan. Jadi, solusi kedua adalah sungguh-sungguhlah untuk bertaubat. Yakini bahwa perbuatannya adalah kemaksiatan yang dibenci Alloh dan sungguh-sungguhlah memperbaiki diri. Solusi ketiga, jangan simpan sendiri masalah ini. Kalo disimpan sendiri, pasti akan membuatmu nyaman karena tidak ada yang tahu dan bahkan kamu menikmati kemaksiatan ini. Beritahu teman dekatmu[pastinya harus teman yang sholih/ah yang bisa mengingatkanmu] tentang masalahmu, sehingga temanmu bisa memantau dan menasihatimu. Solusi terakhir adalah doa. Mintalah pada Alloh agar dihindarkan dari fitnah itu dan agar diberi kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Beberapa kasus yang aku lihat, ketika ikhwan dan akhwat ada yang sudah saling jatuh cinta terkadang menikah adalah solusi bagi mereka. Tapi menurutku menikahkan mereka bukan sebuah solusi. Bagaimana pernikahan akan barokah ketika diawali dengan kemaksiatan. Sesuatu di awal akan menentukan bagaimana akhirnya. Pernikahan yang dibangun karena nafsu bagaimana akan sakinah mawaddah warohmah??? Ya walopun ada yang setelah menikah mereka jadi lebih baik. Tapi untuk itu butuh perjuangan yang besar.
Akhi...ukhti...apa kabar hatimu? Ketika hatimu terlanjur sakit karena virus merah jambu, segeralah bertaubat...Ketika hatimu dalam kondisi sehat maka janganlah mendekati hal-hal yang mendekatkanmu pada virus merah jambu itu. Takutlah pada Alloh dan berilah qudwah yang baik bagi adek-adekmu. Bagaimana dakwah ini akan tersampaikan ketika kondisi hati si pembawa risalah dakwah ini kacau balau begini. Semoga Alloh senantiasa menjaga hati kita sehingga terhindar dari fitnah cinta dan kelak kita bisa menikmati indahnya cinta yang halal dalam bingkai keluarga ideologis yang terhindar dari nafsu syaithan, aamiin.
Penyakit yang mengakibatkan hati kita sakit bisa menyerang siapa saja, termasuk laki-laki dan perempuan yang mendapat predikat aktivis dakwah. Salah satu penyebab yang membuat hati para aktivis dakwah sakit adalah virus merah jambu. Yang pelan tapi pasti virus itu menggerogotinya hingga hilang rasa malunya melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat dan dibenci Alloh. Astaghfirullohal'adzim...
Penyakit itu bisa berawal dari sebuah interaksi yang awalnya masing-masing menganggap biasa-biasa saja. Interaksi dalam sebuah organisasi dakwah, dalam kepanitian acara-acara keislaman, dalam program kampus seperti KKN, membuat mereka saling berkomunikasi dan saling mengetahui personal si ikhwan maupun akhwat. Awalnya cuma mengirim sms undangan rapat, sms karena memang darurat karena teknis sebuah acara atau ketemuan karena menyerahkan berkas-berkas atau ketemuan membahas suatu program. Ternyata sms dan pertemuan itu gak berhenti sampai disitu. Syaithan sangat lihai menggoda dua orang yang sedang saling jatuh cinta. Syaithan menghias kemaksiatan dengan keindahan. Mereka ikhwan dan akhwat aktivis dakwah menjadi sasaran empuk si syaithan yang gak pantang menyerah. Ditambah dengan berkembangnya teknologi, peluang kemaksiatan akan terbuka lebih lebar. Ada fb, twitter, YM atau yang lain yang membuat komunikasi semakin intens bahkan bisa saling melihat melalui webcam tanpa ada orang lain yang tau[sesaat mereka lupa ada Alloh dan malaikat yang tak pernah alpa mengawasinya]. Astaghfirulloh...
Syaithan menjadikan si ikhwan dan akhwat itu mengikuti hawa nafsunya, menjalin hubungan yang tidak selayaknya dilakukan aktivis islam militan. Mereka selayaknya berpacaran. Sms atau telepon selalu dinantikan dari ikhwan atau akhwat yang dia sukai. Panggilan akhi dan ukhti tergantikan dengan mas dan dek. Janjian ketemuan gak cuma untuk rapat tapi juga untuk sesuatu yang gak penting, sekedar jalan berdua. Berkhalwat sudah berani dilakukan diam-diam karena takut ketahuan teman-teman ngajinya atau bahkan murobbinya. Syaithan berhasil menggoda mereka dan mereka yang sedang terjerat cinta gak menyadari itu, seperti orang mabuk yang tak sadarkan diri. Teman yang mengingatkan dan memberinya nasihat dianggap angin lalu saja.
Beberapa kali membantu menyelesaikan masalah akhwat yang lagi kena VMJ, mereka akan sulit untuk kembali tersadarkan kalo mereka gak punya azzam yang kuat. Ketika yang terkena virus itu adalah adek yang baru ngaji, aku menganggap itu wajar[wajar disini bukan bentuk pelegalan] karena ilmu mereka yang masih harus terus ditambah. Namun dengan pendampingan yang terus menerus dari mba-mba nya dan motivasi untuk bisa menjadi lebih baik, pelan-pelan dia bisa sembuh dari sakit yang disebabkan virus merah jambu itu. Tapi secara pribadi aku tidak bisa mentolerir ketika itu dialami oleh ikhwan akhwat yang sudah pada tingkatan paham dan militan. Yang hobinya ngisi pengajian, yang sukanya tampil di depan untuk ngasih motivasi agar adek-adeknya menjadi muslim-muslimah militan, yang kalo ngomongin dakwah dan jihad semangatnya luar biasa dan selalu di barisan terdepan. Na'udzubillah...akhi dan ukhti...sadarlah!!! Kalian adalah qudwah bagi adek-adekmu...malulah kalian pada Alloh...sadarlah bahwa itu adalah kemaksiatan yang dibenci oleh Alloh...segeralah perbaiki diri...lawanlah virus itu...nasehat-nasehat dari orang-orang di sekitarmu gak akan ada artinya ketika kalian sendiri tidak punya kekuatan untuk mengakhiri kemaksiatan itu.
Lalu pa solusinya? Menurutku sangat mudah, tapi buat yang sedang terjangkiti virus ini mungkin sangatlah susah. Satu solusinya, tutup semua akses untuk komunikasi. Baik sms, telepon, fb, email, chatting, video call dan yang lain. Ganti nomor handphone mu, hapus semua akun media sosialmu. Tanpa komunikasi aku yakin akan lebih mudah melupakannya. Memutuskan komunikasi tidak akan bertahan lama kalo gak ada kesungguhan. Jadi, solusi kedua adalah sungguh-sungguhlah untuk bertaubat. Yakini bahwa perbuatannya adalah kemaksiatan yang dibenci Alloh dan sungguh-sungguhlah memperbaiki diri. Solusi ketiga, jangan simpan sendiri masalah ini. Kalo disimpan sendiri, pasti akan membuatmu nyaman karena tidak ada yang tahu dan bahkan kamu menikmati kemaksiatan ini. Beritahu teman dekatmu[pastinya harus teman yang sholih/ah yang bisa mengingatkanmu] tentang masalahmu, sehingga temanmu bisa memantau dan menasihatimu. Solusi terakhir adalah doa. Mintalah pada Alloh agar dihindarkan dari fitnah itu dan agar diberi kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Beberapa kasus yang aku lihat, ketika ikhwan dan akhwat ada yang sudah saling jatuh cinta terkadang menikah adalah solusi bagi mereka. Tapi menurutku menikahkan mereka bukan sebuah solusi. Bagaimana pernikahan akan barokah ketika diawali dengan kemaksiatan. Sesuatu di awal akan menentukan bagaimana akhirnya. Pernikahan yang dibangun karena nafsu bagaimana akan sakinah mawaddah warohmah??? Ya walopun ada yang setelah menikah mereka jadi lebih baik. Tapi untuk itu butuh perjuangan yang besar.
Akhi...ukhti...apa kabar hatimu? Ketika hatimu terlanjur sakit karena virus merah jambu, segeralah bertaubat...Ketika hatimu dalam kondisi sehat maka janganlah mendekati hal-hal yang mendekatkanmu pada virus merah jambu itu. Takutlah pada Alloh dan berilah qudwah yang baik bagi adek-adekmu. Bagaimana dakwah ini akan tersampaikan ketika kondisi hati si pembawa risalah dakwah ini kacau balau begini. Semoga Alloh senantiasa menjaga hati kita sehingga terhindar dari fitnah cinta dan kelak kita bisa menikmati indahnya cinta yang halal dalam bingkai keluarga ideologis yang terhindar dari nafsu syaithan, aamiin.
Published with Blogger-droid v2.0.1
Sabtu, 04 Agustus 2012
ijo-item-coklat-biru
Sudah berapa lamakah kalian berjilbab? Kalo aku baru sekitar 10 tahun. Awal aku pake jilbab kalo gak salah tanggal 10 Februari 2002, saat aku di bangku kelas 1 SMA. Awalnya aku gak tau kalo pake jilbab itu wajib. Setelah ikut kajian-kajian keislaman mulailah aku belajar bagaimana berislam secara benar termasuk kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya. Dan proses hingga aku bisa berjilbab seperti ini pun butuh proses yang tidak singkat dan tidak mudah. Butuh azzam yang kuat itu kuncinya dan organ pendengaran [kuping] kita perlu untuk tidak dimaksimalkan fungsinya [maksudnya???]. Maksudku jangan dengar omongan negatif orang terkait perubahan penampilan [jilbab] kita. Kalopun didengerkan tanggapi aja dengan santai, omongan yang gak enak gak perlu dimasukin ke hati.
Awal pakai jilbab, pakaianku masih biasa seperti belum berjilbab cuma tambah panjang dan tambah tutup kepala [belum bisa dikatakan jilbab]. Aku masih suka pakai celana jeans sama kaos oblong lengan panjang. Bahkan seragam sekolahku pun berbentuk celana longgar yang bisa disulap menjadi seperti rok kalo sletingnya ditutup. Lagi-lagi karena ikut kajian, aku sedikit demi sedikit tersadarkan. Ternyata kriteria jilbab syar'i itu bukan seperti yang selama ini aku pakai. Bahkan jauuuh sekali... Dan aku selalu memperhatikan [ngefans] pada mba-mba yang bergamis dan berjilbab lebar. Sejak awal hatiku berkata "suatu saat nanti aku akan berpakaian seperti itu".
Seiring waktu berjalan, dengan sedikit ilmu yang aku punya, akupun ingin menjadi lebih baik dalam hal berpakaian. Pelan-pelan, perubahan terjadi. Celana jeansku aku ganti dengan rok lebar. Baju osisku yang berbentuk celanapun aku ganti dengan rok betulan. Yang agak kesel dengan hal itu adalah mamahku. Karena dalam waktu beberapa bulan aku harus 3 kali jait seragam sekolah baru. Pertama seragam pendek saat belum berjilbab, kedua seragam panjang tapi model celana dan yang ketiga aku minta dibuatkan seragam panjang dengan bawahan rok. Ya walopun agak kesel, tapi buat orang tua, apa sih yang enggak buat anak. Awal kelas dua aku sudah lebih baik. Kerudung sudah sedikit lebar, kaos kaki coba aku kenakan. Saat itu karena sesama pengurus ROHIS saling menguatkan, kita jadi semakin eksis dengan jilbab kita. Sampe-sampe muncul kekhawatiran dari pihak sekolah, karena jilbab kami yang semakin lebar dan dianggap tidak sesuai aturan seragam yang ditetapkan sekolah. Tapi alhamdulillah kita tetep istiqomah hingga lulus. Bahkan di bangku kelas 3 diantara kami sudah mulai ada yang terkadang pakai gamis.
Aku sendiri mulai mengumpulkan gamis. Pakaian-pakaian mamah yang ada di almari aku pilih-pilih. Yang bentuknya gamis aku minta dan aku pakai. Saat lebaran aku pun minta dibelikan dan dijahitkan gamis bukan rok apalagi celana. Setelah lulus SMA, aku tidak langsung istiqomah mengenakan gamis. Kalau ke kampus aku masih suka pakai rok dan hem panjang. Baru setelah semester 2 aku belajar untuk selalu memakai gamis hingga sekarang.
Sempet pakai gamis bunga-bunga, gamis terang benderang hingga gamis warna-warna soft dan gelap.
Aku teringat sebuah kisah dari ibunda Aisyah. Ketika Aisyah menceritakan sebagian istri para shahabat – pada satu riwayat dikatakan ‘istri para shahabat Mujahirin’ namun pada riwayat yang lain disebutkan ‘istri para shahabat Anshor- “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada para istri shahabat Muhajirin. Ketika ayat tentang jilbab turun, mereka robek kain korden lalu mereka kenakan sebagai jilbab sehingga mereka seperti burung gagak”.
Dari kisah itu disebutkan para sohabiah berjilbab seperti burung gagak, artinya berwarna hitam. Kenapa hitam? Karena warna hitam tidak mencolok dan tidak mengundang perhatian [tapi juga tergantung modelnya siy, warna hitam tapi ketat n transparan malah jadinya parah]. Tapi bukan berarti mutlak dan paten harus hitam. Bukan berarti yang paling sholihah dan paling "nyalaf" harus yang hitam. Karena kesolihan dan kefahaman seseorang gak hanya terletak pada warna baju yang dia kenakan saja. Yang penting tidak mencolok dan mengundang perhatian serta tidak bertujuan untuk tabaruj, warna selain hitam bolehlah dipakai. Tentunya dengan memperhatikan kriteria syar'i yang lain seperti tidak ketak, tidak transparan, tidak seperti pakaian laki-laki dan wanita kafir, tidak memakai wewangian, dll.
Cerita panjang begini, sebenernya aku cuma pengen cerita hasil pengamatanku, yang namanya akhwat [termasuk aku], gamis dan kerudung yang sering dipakainya ya gak jauh-jauh dari 4 warna ini yaitu hijau, hitam, coklat dan biru. Kenapa aku bisa bilang begitu, karena tadi pagi waktu beres-beres kamar, aku gantungkan jilbab-jilbabku yang berserakan gak karuan dan gak sengaja terlihat kombinasi warnanya yaitu ijo-item-coklat-biru.
Ini ceritaku tentang jilbalku. Ya walopun aku juga belum berpakaian 100% syar'i [kadang masih suka geje kalo pake baju, he..] tapi aku paham bagaimana yang seharusnya dan ingin selalu berusaha memperbaiki diri.
Aku posting tulisan ini sambil aku ingat nama temen-temen SMA ku. Aku absen yach..tanti, intan, ninki, aulid, rinan, imus, wahyu, icus, rinan, mahar, linta, beti, eida, emi, umi, ryvca, intan, ade, vita, eka. Sementara itu yang masih kuingat, kalo ada yang terlewat maafkan..indahnya mengenang masa-masa bersama kalian. Tetep istiqomah dengan jilbab kita yach..
Published with Blogger-droid v2.0.1
Kamis, 26 Juli 2012
Cerita Tentang Ciput "Punuk Unta"
Semua wanita berkerudung pasti ngerti kaya apa itu ciput dan mungkin hampir tiap hari mereka memakainya supaya berkerudungnya jadi lebih rapi dan nyaman. Aku punya cerita tentang sebuah ciput "punuk unta" yang lagi ngetrend dipake ibu2, tante2 bahkan mba2 dan adek2 pun ikut-ikutan memakainya. Waktu pertama kali liat ada orang pake krudung tapi kok keliatan "njumbul" banget kepalanya, aku inget sebuah hadits [bentar browsing dulu ^_^].
Nah ini ketemu haditsnya. Hadits Muslim nomor 2128 yang berbunyi: “Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Ada dua kelompok ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya Seorang laki-laki yang mempunyai cemeti/cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuki manusia dengannya dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang,bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok , kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian”.
Kaum wanita bener-bener jadi korban mode. Bahkan krudung yang sudah ada aturan syar'i nya pun dibuat model yg aneh2 seperti krudung "punuk unta" itu.
Kembali ke ceritaku tentang ciput itu. Mamahku itu orang yang gampang terkena bujuk rayu para salesman atau penjual2 yang suka nawarkan dagangan. Nah waktu itu aku pulang entah dari mana tau-tau di rumah ngeliat ciput busa "punuk unta" di tempat mamah biasa naroh krudungnya. Aku langsung negatif thingking. Ini pasti mamahku kena bujuk rayu penjual krudung sampe2 ciput model kaya gini dibelinya. Secara di rumah cuma ada 2 perempuan. Gak mungkin donk aku yang beli. Jadilah mamahku sebagai tersangka pemilik ciput itu. Kebetulan saat itu mamah gak ada di rumah. Aku panggil papahku dan menunjukkan ciput itu padanya. Walaupun papahku bukan orang yang paham banget tentang jilbab syar'i, tapi beliau juga gak suka yang neko-neko. Setelah sedikit mbahas tentang mamahku dan ciput anehnya itu akhirnya kami sepakat mengambil busa yang ada di dalam ciput itu dan membuangnya ke atas ternit rumah melalui lubang ternit yang terbuka. Hahaha tanpa sepengetahuan mamahku lenyap sudah "punuk unta" itu, jadi mamahku gak bisa memakainya lagi.
Nah, beberapa pekan lalu mamahku baru menyadari kalo ada sesuatu miliknya yang hilang. Bertanyalah dia padaku dimana ciput itu. Aku jawab gak tahu, haduh boong aku. Maafin aku ya Alloh. Eh, mamahku bilang lagi "mana ya busa ciputnya, itu kan mau dibalikin". Jadi itu ciput milik temen mamah yang mamah pinjem waktu acara wisuda karena mamahku lupa bawa. What?? ternyata si "punuk unta" cuma minjem, padahal kan udah aku buang. Mamahku minta aku nganter ke rumah temenya itu untuk suatu keperluan. Sampenya di sana, mamahku menyampaikan ke temenya kalo sebenernya mau mbaliki ciput yang dulu dipinjamnya tapi tadi dicari gak ketemu2. Temen mamahku bilang, "gak papa bu, pake aja buat kenang-kenangan". Dengan muka innocent aku cuma senyum-senyum sambil ngeliatin muka mereka berdua. Jadilah mamahku tidak akan pake krudung "punuk unta" itu lagi.
Nah ini ketemu haditsnya. Hadits Muslim nomor 2128 yang berbunyi: “Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Ada dua kelompok ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya Seorang laki-laki yang mempunyai cemeti/cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuki manusia dengannya dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang,bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok , kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian”.
Kaum wanita bener-bener jadi korban mode. Bahkan krudung yang sudah ada aturan syar'i nya pun dibuat model yg aneh2 seperti krudung "punuk unta" itu.
Kembali ke ceritaku tentang ciput itu. Mamahku itu orang yang gampang terkena bujuk rayu para salesman atau penjual2 yang suka nawarkan dagangan. Nah waktu itu aku pulang entah dari mana tau-tau di rumah ngeliat ciput busa "punuk unta" di tempat mamah biasa naroh krudungnya. Aku langsung negatif thingking. Ini pasti mamahku kena bujuk rayu penjual krudung sampe2 ciput model kaya gini dibelinya. Secara di rumah cuma ada 2 perempuan. Gak mungkin donk aku yang beli. Jadilah mamahku sebagai tersangka pemilik ciput itu. Kebetulan saat itu mamah gak ada di rumah. Aku panggil papahku dan menunjukkan ciput itu padanya. Walaupun papahku bukan orang yang paham banget tentang jilbab syar'i, tapi beliau juga gak suka yang neko-neko. Setelah sedikit mbahas tentang mamahku dan ciput anehnya itu akhirnya kami sepakat mengambil busa yang ada di dalam ciput itu dan membuangnya ke atas ternit rumah melalui lubang ternit yang terbuka. Hahaha tanpa sepengetahuan mamahku lenyap sudah "punuk unta" itu, jadi mamahku gak bisa memakainya lagi.
Nah, beberapa pekan lalu mamahku baru menyadari kalo ada sesuatu miliknya yang hilang. Bertanyalah dia padaku dimana ciput itu. Aku jawab gak tahu, haduh boong aku. Maafin aku ya Alloh. Eh, mamahku bilang lagi "mana ya busa ciputnya, itu kan mau dibalikin". Jadi itu ciput milik temen mamah yang mamah pinjem waktu acara wisuda karena mamahku lupa bawa. What?? ternyata si "punuk unta" cuma minjem, padahal kan udah aku buang. Mamahku minta aku nganter ke rumah temenya itu untuk suatu keperluan. Sampenya di sana, mamahku menyampaikan ke temenya kalo sebenernya mau mbaliki ciput yang dulu dipinjamnya tapi tadi dicari gak ketemu2. Temen mamahku bilang, "gak papa bu, pake aja buat kenang-kenangan". Dengan muka innocent aku cuma senyum-senyum sambil ngeliatin muka mereka berdua. Jadilah mamahku tidak akan pake krudung "punuk unta" itu lagi.
Published with Blogger-droid v2.0.1
Sabtu, 26 Mei 2012
Bolsters to Cry on
![]() |
| guling lecek-ku |
Trus nyambungnya dimana sama postingan ini? He...aku terinspirasi sama judulnya saja kok. A Shoulder to Cry on aku ubah jadi Bolsters to Cry on. Sebagai wanita gak usah malu mengakui kalo dia makhluk yang cengeng. Walopun di depan orang tampak tegar dan kuat, tapi kala sendiri dia mudah meneteskan airmata. Saat kondisi lagi sensi, ada masalah dan sebenernya dia butuh teman sekedar untuk mendengarkan curhatnya tapi tak ada teman di sisinya. Curhat ke teman bisa tetep jalan via telpon atau malah berpuitis ria via sms, tapi saat harus meneteskan airmata no shoulder to cry on. Trus gimana donk? Tak ada rotan akarpun jadi, there's no shulder to cry on but there's bolsters to cry on. Thank's my friends and my bolsters too...you always be with me when i need you.
Published with Blogger-droid v2.0.1
Rabu, 23 Mei 2012
Obrolan SMS dengan Seorang Adek
Aku : Din ini hanya akan dipikul oleh org2 yg bertekad baja.jalan ini tdk bth org2 yg malas dan bersantai2.yg dbthkan adl org2 yg siap berkorbn,siap diatur,siap mengatr,siap bekerjsm. Ujian didepan mata..siapkah dg setiap konskuensi yg mesti qt pegang?Mau maju/berhenti/mundur??? Teman...fahamkan diri, kuatkan fisik, siapkan mental...krn jalan ini masih begitu panjang.sanggupkah kita menapakinya?tergantg sberapa bsar qt bersungguh2 ya ukhti...
Adekku : Panjang y mb?..
Aku : Kata yg sudah melaluinya begitu. Aq pun baru menapak satu dua langkah,tp aq ingin melangkah lg walopun satu langkahpun sulit,mau ikt g?
Adekku : Ikt .. Tp bntuin y mb, dgandeng..yen ndlenger d elingke..hehehe
Aku : Yen aq wis nggandeng,koe cekelane sing kenceng,mbok ucul nek ora kenceng...yen aq ngelingke,dirungokne...lan ojo nesu yo cah ayu...
Adekku : InsyaAlloh mb,.hehe..Aq sdih t kdg krn aq blm bs brbwt bnyk..kdg bingung jg meh pie..
Aku : Lakukan yg bs km lakukan..ada kesulitan bagilah dg yg lain. Kamu pny teman dan sodara yg bs membntumu dan menguatkanmu..
Adekku sayang, aku yakin kamu bisa. Doaku, semoga dirimu tetep semangat dan istiqomah, dan kelak menjadi qoidah sholabah. Aku tunggu peranmu untuk menjayakan Islam. Bukan Islam yang butuh kamu, tapi kamulah yang butuh Islam. Aku jadi inget diriku beberapa tahun yang lalu ketika diberi secarik kertas oleh mbakku dan masih kusimpan hingga sekarang. Setiap aku malas dan aku baca tulisan di kertas itu, rasa malasku akan hilang.
Adekku : Panjang y mb?..
Aku : Kata yg sudah melaluinya begitu. Aq pun baru menapak satu dua langkah,tp aq ingin melangkah lg walopun satu langkahpun sulit,mau ikt g?
Adekku : Ikt .. Tp bntuin y mb, dgandeng..yen ndlenger d elingke..hehehe
Aku : Yen aq wis nggandeng,koe cekelane sing kenceng,mbok ucul nek ora kenceng...yen aq ngelingke,dirungokne...lan ojo nesu yo cah ayu...
Adekku : InsyaAlloh mb,.hehe..Aq sdih t kdg krn aq blm bs brbwt bnyk..kdg bingung jg meh pie..
Aku : Lakukan yg bs km lakukan..ada kesulitan bagilah dg yg lain. Kamu pny teman dan sodara yg bs membntumu dan menguatkanmu..
Adekku sayang, aku yakin kamu bisa. Doaku, semoga dirimu tetep semangat dan istiqomah, dan kelak menjadi qoidah sholabah. Aku tunggu peranmu untuk menjayakan Islam. Bukan Islam yang butuh kamu, tapi kamulah yang butuh Islam. Aku jadi inget diriku beberapa tahun yang lalu ketika diberi secarik kertas oleh mbakku dan masih kusimpan hingga sekarang. Setiap aku malas dan aku baca tulisan di kertas itu, rasa malasku akan hilang.
Published with Blogger-droid v2.0.1
Senin, 21 Mei 2012
Keluarga Jangan Menjadi Penghalang
Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua manusia tetapi dua keluarga. Itu yang sering kita dengar dan itu tidaklah salah. Karena itu bukan sesuatu yang salah sehingga aku beberapa kali mendengar kasus gagalnya proses pernikahan karena ketidakcocokan di antara dua keluarga, bukan karena ketidakcocokan kedua manusia yang akan menikah tersebut. Ada yang karena background keluarga yang berbeda, ada yang karena orang tua si laki-laki gak sreg karena si calon mantu kurang cantik, ada yang karena orang tua si perempuan kurang sreg karena si calon mantu penghasilannya dianggap belum layak untuk menghidupi anak perempuannya nanti, dan masih banyak lagi alasan lain yang menjadikan keluarga sebagai penghalang sebuah pernikahan.
Untuk orang umum, alasan seperti itu mungkin wajar. Karena mereka belum punya visi misi yang jelas dalam keluarga mereka kelak, jadi ketika ada sedikit penghalang dari keluarga ya sudah proses menuju pernikahan berhenti begitu saja tanpa ada usaha untuk menjadikan penghalang itu menjadi bukan penghalang. Tetapi ada juga mereka yang berjuang agar faktor keluarga tidak menjadi penghalang dalam pernikahan mereka. Ketika orang umum bisa melakukan hal demikian, ikhwan akhwat yang menjumpai faktor keluarga menjadi kendala dalam proses pernikahannya, seharusnya bisa melakukan hal yang lebih dari mereka yang orang umum. Mengapa seharusnya demikian? Ya karena dalam pernikahan seorang ikhwan dan akhwat, mereka memiliki visi misi ke depan dalam rumah tangganya ingin membentuk keluarga ideologis, keluarga yang ingin tetap eksis dalam dakwah dan iqomatuddin sehingga tidak seharusnya sesuatu yang tidak prinsip yang muncul saat proses pernikahannya termasuk ketidakcocokan antar keluarga menjadi penghalang proses pernikahannya. Seorang ikhwan maupun akhwat perlu banyak bertanya dan belajar dari yang lain yang lebih berpengalaman dalam urusan ini. Itulah perlunya kita dekat dengan seorang mbak, kakak atau ummahat karena dari mereka kita bisa dapat banyak pengalaman hidup termasuk dalam hal proses pernikahan maupun rumah tangga.
Beberapa hal yang bisa aku ambil dari obrolan-obrolanku dengan beberapa orang yang aku dekat dengan mereka, ternyata melobi orang tua itu perlu strategi yang cantik. Sehingga hal-hal yang tidak prinsip tidak sampai menjadikannya gagal dalam proses pernikahannya. Ikhwan dan akhwat jangan terlalu lugu menceritakan semua hal tentang calon pendamping hidupnya maupun keluarganya pada orang tua. Bukan membohongi, tetapi ceritakan yang perlu diceritakan [kok kayak uya kuya, he..], yang sekiranya ketika diceritakan justru menjadi penghalang prosesnya lebih baik tidak diceritakan. Misalnya begini, ketika tahu ibu si ikhwan itu punya idealisme calon mantunya nanti kudu putih, cantik, kutilang [kurus tinggi langsing], namun si akhwat tidak 100% seperti yang diinginkan ibunya seharusnya si ikhwan dengan gaya diplomasinya cukup menceritakan kelebihan si akhwat yang menjadikan ibunya menerima dan gak perlu kekurangannya disampaikan secara detail. Misalnya lagi begini, ketika ortu si akhwat punya standart minimal penghasilan untuk calon mantunya, namun penghasilan si ikhwan masih jauh di bawah standart ortu, gak perlu si akhwat berterus terang pada ortunya berapa gaji calon suaminya, katakan saja insyaAlloh penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pastinya dengan sebuah keyakinan bahwa Alloh itu Ar-Rozaq dan Alloh akan memudahkan rizki hambanya yang memiliki niat baik untuk berumah tangga, tapi tetep...ikhtiar juga kudu maksimal donk. Ada lagi cerita yang aku dapat dari seorang teman tentang proses seorang ikhwan dan akhwat yang background keluarganya bertolak belakang. Keluarga si ikhwan muhammadiyah banget dan keluarga si akhwat NU banget, tapi proses pernikahan berjalan dengan baik. Si akhwat gak perlu menceritakan kemuhammadiyahan keluarga si ikhwan pada ortunya dan si ikhwan gak perlu menceritakan keNUan keluarga si akhwat pada ortunya. Cukup saja katakan keluarga si ikhwan atau si akhwat adalah keluarga muslim. Bukan bohong kan? Tapi katakan saja yang perlu demi kemaslahatan.
Sebenernya itu masalah teknis saja, tetapi kadang hal seperti ini tidak begitu diperhatikan ikhwan maupun akhwat saat mereka sedang proses. Seharusnya jauh sebelum proses ikhwan dan akhwat sudah test case dulu dengan orang tua masing-masing, seperti apa mantu yang ortu mereka inginkan. Jadi, ketika sudah ada calon yang hendak dikenalkan dengan orang tua, mereka tahu mana yang perlu diceritakan dan mana yang tidak perlu. Sekali lagi, bukan membohongi ortu atau keluarga tapi hal ini untuk kemaslahatan ke depan, karena di balik pernikahan seorang ikhwan dan akhwat gak hanya sekedar menyatukan dua manusia atau dua keluarga tapi ada proyek dan amanah dakwah yang jauh lebih penting dan jangan sampai urusan teknis lobi orang tua yang kurang cantik menjadi penghalang berjalannya amanah dan proyek dakwah ke depan. Dan yang paling penting adalah selalu berdoa dan minta sama Alloh untuk diberikan yang terbaik...Ya Robb, i do hope the best from You.
Untuk orang umum, alasan seperti itu mungkin wajar. Karena mereka belum punya visi misi yang jelas dalam keluarga mereka kelak, jadi ketika ada sedikit penghalang dari keluarga ya sudah proses menuju pernikahan berhenti begitu saja tanpa ada usaha untuk menjadikan penghalang itu menjadi bukan penghalang. Tetapi ada juga mereka yang berjuang agar faktor keluarga tidak menjadi penghalang dalam pernikahan mereka. Ketika orang umum bisa melakukan hal demikian, ikhwan akhwat yang menjumpai faktor keluarga menjadi kendala dalam proses pernikahannya, seharusnya bisa melakukan hal yang lebih dari mereka yang orang umum. Mengapa seharusnya demikian? Ya karena dalam pernikahan seorang ikhwan dan akhwat, mereka memiliki visi misi ke depan dalam rumah tangganya ingin membentuk keluarga ideologis, keluarga yang ingin tetap eksis dalam dakwah dan iqomatuddin sehingga tidak seharusnya sesuatu yang tidak prinsip yang muncul saat proses pernikahannya termasuk ketidakcocokan antar keluarga menjadi penghalang proses pernikahannya. Seorang ikhwan maupun akhwat perlu banyak bertanya dan belajar dari yang lain yang lebih berpengalaman dalam urusan ini. Itulah perlunya kita dekat dengan seorang mbak, kakak atau ummahat karena dari mereka kita bisa dapat banyak pengalaman hidup termasuk dalam hal proses pernikahan maupun rumah tangga.
Beberapa hal yang bisa aku ambil dari obrolan-obrolanku dengan beberapa orang yang aku dekat dengan mereka, ternyata melobi orang tua itu perlu strategi yang cantik. Sehingga hal-hal yang tidak prinsip tidak sampai menjadikannya gagal dalam proses pernikahannya. Ikhwan dan akhwat jangan terlalu lugu menceritakan semua hal tentang calon pendamping hidupnya maupun keluarganya pada orang tua. Bukan membohongi, tetapi ceritakan yang perlu diceritakan [kok kayak uya kuya, he..], yang sekiranya ketika diceritakan justru menjadi penghalang prosesnya lebih baik tidak diceritakan. Misalnya begini, ketika tahu ibu si ikhwan itu punya idealisme calon mantunya nanti kudu putih, cantik, kutilang [kurus tinggi langsing], namun si akhwat tidak 100% seperti yang diinginkan ibunya seharusnya si ikhwan dengan gaya diplomasinya cukup menceritakan kelebihan si akhwat yang menjadikan ibunya menerima dan gak perlu kekurangannya disampaikan secara detail. Misalnya lagi begini, ketika ortu si akhwat punya standart minimal penghasilan untuk calon mantunya, namun penghasilan si ikhwan masih jauh di bawah standart ortu, gak perlu si akhwat berterus terang pada ortunya berapa gaji calon suaminya, katakan saja insyaAlloh penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pastinya dengan sebuah keyakinan bahwa Alloh itu Ar-Rozaq dan Alloh akan memudahkan rizki hambanya yang memiliki niat baik untuk berumah tangga, tapi tetep...ikhtiar juga kudu maksimal donk. Ada lagi cerita yang aku dapat dari seorang teman tentang proses seorang ikhwan dan akhwat yang background keluarganya bertolak belakang. Keluarga si ikhwan muhammadiyah banget dan keluarga si akhwat NU banget, tapi proses pernikahan berjalan dengan baik. Si akhwat gak perlu menceritakan kemuhammadiyahan keluarga si ikhwan pada ortunya dan si ikhwan gak perlu menceritakan keNUan keluarga si akhwat pada ortunya. Cukup saja katakan keluarga si ikhwan atau si akhwat adalah keluarga muslim. Bukan bohong kan? Tapi katakan saja yang perlu demi kemaslahatan.
Sebenernya itu masalah teknis saja, tetapi kadang hal seperti ini tidak begitu diperhatikan ikhwan maupun akhwat saat mereka sedang proses. Seharusnya jauh sebelum proses ikhwan dan akhwat sudah test case dulu dengan orang tua masing-masing, seperti apa mantu yang ortu mereka inginkan. Jadi, ketika sudah ada calon yang hendak dikenalkan dengan orang tua, mereka tahu mana yang perlu diceritakan dan mana yang tidak perlu. Sekali lagi, bukan membohongi ortu atau keluarga tapi hal ini untuk kemaslahatan ke depan, karena di balik pernikahan seorang ikhwan dan akhwat gak hanya sekedar menyatukan dua manusia atau dua keluarga tapi ada proyek dan amanah dakwah yang jauh lebih penting dan jangan sampai urusan teknis lobi orang tua yang kurang cantik menjadi penghalang berjalannya amanah dan proyek dakwah ke depan. Dan yang paling penting adalah selalu berdoa dan minta sama Alloh untuk diberikan yang terbaik...Ya Robb, i do hope the best from You.
Sabtu, 19 Mei 2012
Sebait Semangat Penutup Malam
Sebait semangat kukirim untuk yang aku cintai...
Din ini hanya akan dipikul oleh org2 yg bertekad baja.jalan ini tdk bth org2 yg malas dan bersantai2.yg dbthkan adl org2 yg siap berkorbn,siap diatur,siap mengatr,siap bekerjsm.
Ujian didepan mata..siapkah dg setiap konskuensi yg mesti qt pegang?
Mau maju/berhenti/mundur???
Jalan ini msh begitu panjang..sanggupkah kita menapakinya?tergantg sberapa bsar qt bersungguh2 ya ukhti...luph u all :-)
Published with Blogger-droid v2.0.1
Selasa, 15 Mei 2012
Konsekuensi IHJ for Akhwat
Ketika kita membaca siroh Nabawi dan siroh Sahabat, kita akan tahu bagaimana beratnya Rosul dan Sahabat menanggung konsekuensi prinsip I-H-J tersebut. Bagaimana karena keimanannya Rosululloh, keluarga Yasir, Sumayyah, Bilal, Khubaib bersabar dengan siksaan orang-orang qurays yang menginginkan beliau-beliau melepas keislamanya. Bagaimana para Sahabat Muhajirin berhijrah dari Mekah ke Madinah dengan meninggalkan rumahnya, ladangnya, harta bendanya, sanak keluarganya dan semua yg berharga dalam hidupnya. Yang mereka bawa hanyalah sebongkah keimanan yang tersimpan rapat dalam dadanya serta perasaan cinta yang begitu dalam pada Alloh dan Rosulnya. Pengorbanan mereka dalam hal jihad tidak dapat diragukan lagi. Syahid adalah cita-cita tertinggi mereka. 70 kali lebih Rosul berada dalam kancah jihad bersama para Sahabat. Hingga Islam mencapai puncak kejayaan dan menguasai sepertiga dunia.
Nah sekarang ketika sudah menengok bagaimana konsekuensi yang harus Rosululloh dan Sahabat terima pada masanya dengan prinsip IHJnya. Pertanyaan muncul, sebagai akhwat yang hidup pada masa sekarang dan meyakini prinsip IHJ sebagai jalan yg mesti dtempuh untuk menjayakan Islam, apa konsekuensi yang akan akhwat jalani?
Seiring dengan kefahaman seorang akhwat, dia akan lebih dewasa memandang kehidupan. Apalagi kehidupannya kini disinari cahaya Islam. Keimanannya pada Alloh akan semakin meneguhkan dia dengan prinsipnya, meskipun akan terjadi benturan dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan imannya dia yakin akan pertolongan Alloh atas konsekuensi yang dia tanggung. Salah satunya dia tidak akan goyah dengan pakaian syar'i nya. Dia fahami bahwa pasti dengan pakaianya, dia tak seperti perempuan pada umumnya yang bebas bergaul dan berkarir. Tapi dengan keimanannya bahwa Alloh itu Ar Razaq maka dia yakin sepenuh hati ketika dia tetep berikhtiar pasti rizki yang sudah menjadi haknya gak akan jatuh kepada yang lain meski pakaian syar'i nya menghalangi dia untuk berkarir. Banyak hal yang bisa dia lakukan untuk menggapai rizki Alloh tanpa mengorbankan pakaiannya.
Hijrohnya seorang akhwat adalah berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah dan mengubahnya menjadi kebiasaan-kebiasaan baik. Begitu juga perbaikan dalam hal akhlak, ibadah, muamalah, pokoknya berusaha selalu memperbaiki diri. Selain itu dia juga mesti berhijroh mencari bi'ah yang sholihah. Kalo dulunya tinggal di kos umum, maka sekarang carilah kos akhwat. Ya walaupun aku bukan produk dari kosan akhwat [karena aku orang rumahan] tapi aku bisa merasakan efek dari proses perbaikan yang akhwat-akhwat alami di kosan, karena tempat singgahku di siang hari adalah kos-kos akhwat yang teman-temanku huni. Ketika akhwat masih kuliah, gak masalah dia untuk terus berada di kosan akhwat karena kiriman bulanan dari orang tua masih rutin mengalir. Bagaimana setelah lulus? Orang tua pasti menuntut pulang. Mereka minta si akhwat untuk langsung cari pekerjaan yang "layak" dan sesuai bidangnya. Kembali akhwat dihadapkan pada pilihan-pilihan sebagai konsekuensi dari prinsip yang dia pegang. Keputusan untuk tetap berada di kosan akhwat adalah pilihan yang paling tepat meski dia harus bersitegang dengan orang tua. Dia faham ketika dia pulang, lingkungan tidak mendukung dia untuk istiqomah. Ketika dia bekerja seperti tuntutan orang tua, lingkungan kerjanya tidak akan membuatnya konsisten dengan prinsipnya. Akhwat harus memutar otak, bagaimana dia bisa mandiri tanpa meminta uang bulanan pada orang tua, bahkan kalau bisa dia kirim ke rumah beberapa rupiah sekedar meyakinkan bahwa dia sudah berpenghasilan. Sementara dia berusaha dengan aktivitas mencari maisyah, salah satu alasan dia tetap bertahan di kos akhwat adalah masih adanya amanah dakwah. Adek-adek kosan masih butuh dia di sisinya untuk membimbing. Masih banyak PR [Pekerjaan Rumah] dalam pembinaan akhwat yang belum diselesaikan. Bismillah...dengan keyakinan tetap bertahan berada pada bi'ah sholihah akan membuatnya istiqomah, pasti Alloh memudahkan. Selain itu akhwat juga kudu siap jika sewaktu-waktu pindah tugas dan mempersiapkan diri juga kalo nantinya dapet jodoh yang akan membawanya ke luar daerah, luar propinsi, luar pulau atau luar negeri. Gak banyak akhwat yang siap diajak kemanapun nanti suami ditugaskan. Kalopun akhwat siap, ternyata mengkondisikan ortu tidaklah mudah. So, prepare it from now.
Cita-cita untuk berjihad bukan hanya milik para rijal. Akhwatpun harus bercita-cita menjadi seorang mujahidah yang siap mengorbankan hidupnya untuk Islam. Terus gimana jihadnya seorang akhwat pada kondisi saat ini? Ilmui, pahami dan yakini konsep jihad yang benar. Pahamkan diri, kuatkan fisik dan siapkan mental. Kemudian sebagai bentuk realisasi dari jihad tersebut, akhwat berusaha semaksimal mungkin berkiprah dalam dunia dakwah dan iqomatuddin dengan mengorbankan tenaga, waktu, pikiran dan hartanya. Milikilah ghiroh dalam dakwah dan iqomatuddin sepertinya ghirohnya para mujahid dalam berjihad. Jangan bermalas-malasan dan amanahlah dengan tugas-tugasnya. Peliharalah ghiroh jihad dalam dada dan milikilah cita-cita untuk menjadi istri seorang mujahid dan menjadi pencetak generasi mujahid. Suatu ketika jika ada yang bertanya "siapkah jika ditinggal suami berjihad?", jawablah dengan yakin "InsyaAlloh SIAP". Konsekuensi seorang akan prinsip IHJ saat ini tak seberapa dari konsekuensi yang harus ditanggung Rosul dan Sahabat pada masa mereka. Maka istiqomahlah, pegang teguhlah dan saling menguatkan satu dengan yang lain.
Tulisan ini aku tulis terutama untuk mengingatkan diriku sendiri. Ya Robb, teguhkanlah kami selalu di jalan ini. Jadikan kami generasi Robbani yang senantiasa memiliki cita-cita syahid di jalan-Mu. Aamiin...
Published with Blogger-droid v2.0.1
Sabtu, 12 Mei 2012
Menyambut Pagi dengan Menyapa Mereka
Pagi ini dingin yang aku rasa. Mukena masih kupakai sejak sholat subuh tadipun tidak mengurangi rasa dingin ini. Kondisi seperti ini mendukungku untuk tidak segera beranjak dari tempat tidur untuk memulai aktivitas rutin harian di rumah (nyapu, nyuci, beres2 rumah, de el el, he..).
Setelah tilawah beberapa ayat, membuka inbox dan membalas beberapa sms, aku nyalakan minilyric player di handphone ku, dan entah kenapa aku pengen banget dengerin sebuah nasyid yang aku lupa siapa yang membawakan dan apa judulnya. Aku buka satu-satu file nasyidku dan akhirnya kutemukan. Ternyata judulnya Sahabat Perjuangan, yang membawakan adalah Tazakka (siapa ya Tazakka, aku gak tau siapa mereka, cuma punya file-file nasyid mereka aja).
Aku play nasyid itu dan aq seacrh liriknya. Setelah aku baca liriknya, aku sekarang tau alasan kenapa aku pengen denger nasyid itu. Itu karena aku rindu kawan-kawanku. Padahal ada yang semalem baru aja aku temui dan ada yang semalem kita sms-an.
Salah satu kebiasaan kami adalah menuliskan perasaan hati dengan untaian kata indah dan membagikanya lewat sms. Itu kebiasaan kami, yang gak jarang saat sms-sms mereka aku baca, butiran bening menetes di pipiku. Begitupun smsku yang terkadang bikin mereka juga meneteskan air mata. Oh indahnya..dimana lagi coba kutemukan ukhuwah yang sebegini indah..
Kucopy bait pertama dari nasyid ini dan kukirim pada kawan2ku untuk menyapa mereka pagi ini dengan teriring doa semoga hari ini indah untuk kalian. Dan makasih kawan atas sms-sms balasan kalian.
Ini aku tuliskan lirik nasyid Sahabat Perjuangan.
Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan
Andai ada kasih antara kita
Kita kembalikan kepada Yang Esa
Agar ia suci tulus dan ikhlas
semoga Alloh memberkati
Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Pimpinlah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran
Reff:
Perjuangan itu artinya berkorban
Berkorban itu artinya terkorban
Janganlah gentar untuk berjuang
Demi agama dan bangsa
Inilah jalan kita
Setelah tilawah beberapa ayat, membuka inbox dan membalas beberapa sms, aku nyalakan minilyric player di handphone ku, dan entah kenapa aku pengen banget dengerin sebuah nasyid yang aku lupa siapa yang membawakan dan apa judulnya. Aku buka satu-satu file nasyidku dan akhirnya kutemukan. Ternyata judulnya Sahabat Perjuangan, yang membawakan adalah Tazakka (siapa ya Tazakka, aku gak tau siapa mereka, cuma punya file-file nasyid mereka aja).
Aku play nasyid itu dan aq seacrh liriknya. Setelah aku baca liriknya, aku sekarang tau alasan kenapa aku pengen denger nasyid itu. Itu karena aku rindu kawan-kawanku. Padahal ada yang semalem baru aja aku temui dan ada yang semalem kita sms-an.
Salah satu kebiasaan kami adalah menuliskan perasaan hati dengan untaian kata indah dan membagikanya lewat sms. Itu kebiasaan kami, yang gak jarang saat sms-sms mereka aku baca, butiran bening menetes di pipiku. Begitupun smsku yang terkadang bikin mereka juga meneteskan air mata. Oh indahnya..dimana lagi coba kutemukan ukhuwah yang sebegini indah..
Kucopy bait pertama dari nasyid ini dan kukirim pada kawan2ku untuk menyapa mereka pagi ini dengan teriring doa semoga hari ini indah untuk kalian. Dan makasih kawan atas sms-sms balasan kalian.
Ini aku tuliskan lirik nasyid Sahabat Perjuangan.
Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan
Andai ada kasih antara kita
Kita kembalikan kepada Yang Esa
Agar ia suci tulus dan ikhlas
semoga Alloh memberkati
Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Pimpinlah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran
Reff:
Perjuangan itu artinya berkorban
Berkorban itu artinya terkorban
Janganlah gentar untuk berjuang
Demi agama dan bangsa
Inilah jalan kita
Published with Blogger-droid v2.0.1
Kamis, 05 April 2012
Togetherness With You
Kukirim sebuah sms pada beberapa sobatku:
sesuatu yg qt rindukan pasti itu suatu yg indah.
aq ingin suatu saat nanti,entah kapan,aq sangat merindukan kebersamaan dg kalian.
so,jadikan kebersamaan qt adalah sesuatu yg indah yg layak qt rindukan suatu saat nanti saat qt tdk lg bersama...
sob,you are one of the best that i ever had. love you all :-)
sesuatu yg qt rindukan pasti itu suatu yg indah.
aq ingin suatu saat nanti,entah kapan,aq sangat merindukan kebersamaan dg kalian.
so,jadikan kebersamaan qt adalah sesuatu yg indah yg layak qt rindukan suatu saat nanti saat qt tdk lg bersama...
sob,you are one of the best that i ever had. love you all :-)
Published with Blogger-droid v2.0.1
Selasa, 20 Maret 2012
Antara Cita-cita dan Realita
Semua wanita termasuk akhwat pasti mendambakan pasangan hidup yang terbaik bagi dirinya. Seseorang yang kelak menjadi imamnya, pasti akhwat menginginkan yang amal yauminya ok, kefahaman islamnya tidak diragukan, akhlaknya bagus, semangat iqomatuddinnya juga tidak diragukan. Disamping kriteria standart lain seperti harus bertanggung jawab, penyayang, berpenghasilan, bahkan kalo tidak malu akhwat ingin suaminya kelak punya muka menawan. Itu aku lihat dari kacamata akhwat. Tapi dari kacamata ikhwan mungkin juga begitu, inginnya akhwat yang cantik, faham dan usianya masih muda. Wah...wah...wah...Yang punya keinginan begitu sudahkah dia "berdiri di depan kaca" dan bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah wajahku menawan? Ibadah dan akhlakku ku baik? Kefahamanku ok? semangat iqomatuddinku tinggi?" Ketika jawabannya iya, maka pantaslah dia beridealis. Kalo mau yang seperti Rosululloh, sudahkah kita menjadi seperti Khadijah atau Aisyah?
Terkadang realita tak seindah cita-cita. Kita ingin yang seperti ini tapi yang datang seperti itu. Muncullah ego pribadi, kita hanya melihat setiap sisi positif dari kita dan melihat sisi negatif dari calon pasangan kita. Adanya sisi negatif dari calon pasangannya membuatnya dia ragu dan akhirnya memutuskan menghentikan proses itu. Padahal secara teori dia faham bahwa pernikahan adalah untuk saling melengkapi kekurangan. Mengambil perkataan seorang ustadz yang pakar dalam pembahasan pernikahan "Kalo yang kita cari adalah ikhwan yang sempurna, mungkin yang kita cari adalah ikhwan yang tidak akan pernah terlahir di dunia".
Sebelum memutuskan untuk menolak seorang ikhwan yang kita anggap secara kualitas di bawah kriteria kita, pikirkanlah kembali. Apakah keputusan kita itu benar? Seorang ikhwan yang sekarang ibadahnya masih kurang bagus, bekal ilmu yang kita anggap masih kurang, itu hanya sedikit dari kekurangannya, yang tidak menutup kemungkinan setelah menikah dia bisa jauh lebih baik. Dan yang menjadikannya "melejit" dalam ibadah dan iqomatuddin adalah karena peran istri yang faham yang bisa membersamai dan memotivasi suami.
Kalo kita mengambil keputusan untuk menolaknya, maka pikirkan juga bahwa ikhwan yang sebelum menikah sudah faham, ibadanya bagus, semangat berdakwahnya tinggi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia juga bisa futur. Jadi janganlah melihat seorang ikhwan pada kondisi saat ini, lihatlah dia beberapa tahun yang akan datang saat dia "melejit".
Bukan berarti akhirnya kita menurunkan standart kriteria calon pasangan kita, tapi ketika yang datang adalah ikhwan sholih yang punya keinginan kuat memperbaiki diri dan semangat tinggi dalam iqomatuddin walopun masih ada kekurangan dalam dirinya, janganlah mudah mengambil keputusan untuk menolaknya. Ketika ikhwan sholeh itu kita tolak, belum tentu ikhwan yang sesuai dengan kriteria kita, dia mau menerima kita karena kita juga bukan akhwat yang sempurna. Dan belum tentu yang datang berikutnya lebih baik dari yang sebelumnya. Ya Alloh, mudahkanlah proses kami menuju penikahan yang barokah. Untuk sahabatku yang sedang dalam proses pernikahannya, semoga Alloh memudahkanmu. Untuk sahabatku yang berada dalam masa penantian, teruslah memperbaiki diri dan berdoa agar diberi yang terbaik. Aamiin...
Terkadang realita tak seindah cita-cita. Kita ingin yang seperti ini tapi yang datang seperti itu. Muncullah ego pribadi, kita hanya melihat setiap sisi positif dari kita dan melihat sisi negatif dari calon pasangan kita. Adanya sisi negatif dari calon pasangannya membuatnya dia ragu dan akhirnya memutuskan menghentikan proses itu. Padahal secara teori dia faham bahwa pernikahan adalah untuk saling melengkapi kekurangan. Mengambil perkataan seorang ustadz yang pakar dalam pembahasan pernikahan "Kalo yang kita cari adalah ikhwan yang sempurna, mungkin yang kita cari adalah ikhwan yang tidak akan pernah terlahir di dunia".
Sebelum memutuskan untuk menolak seorang ikhwan yang kita anggap secara kualitas di bawah kriteria kita, pikirkanlah kembali. Apakah keputusan kita itu benar? Seorang ikhwan yang sekarang ibadahnya masih kurang bagus, bekal ilmu yang kita anggap masih kurang, itu hanya sedikit dari kekurangannya, yang tidak menutup kemungkinan setelah menikah dia bisa jauh lebih baik. Dan yang menjadikannya "melejit" dalam ibadah dan iqomatuddin adalah karena peran istri yang faham yang bisa membersamai dan memotivasi suami.
Kalo kita mengambil keputusan untuk menolaknya, maka pikirkan juga bahwa ikhwan yang sebelum menikah sudah faham, ibadanya bagus, semangat berdakwahnya tinggi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia juga bisa futur. Jadi janganlah melihat seorang ikhwan pada kondisi saat ini, lihatlah dia beberapa tahun yang akan datang saat dia "melejit".
Bukan berarti akhirnya kita menurunkan standart kriteria calon pasangan kita, tapi ketika yang datang adalah ikhwan sholih yang punya keinginan kuat memperbaiki diri dan semangat tinggi dalam iqomatuddin walopun masih ada kekurangan dalam dirinya, janganlah mudah mengambil keputusan untuk menolaknya. Ketika ikhwan sholeh itu kita tolak, belum tentu ikhwan yang sesuai dengan kriteria kita, dia mau menerima kita karena kita juga bukan akhwat yang sempurna. Dan belum tentu yang datang berikutnya lebih baik dari yang sebelumnya. Ya Alloh, mudahkanlah proses kami menuju penikahan yang barokah. Untuk sahabatku yang sedang dalam proses pernikahannya, semoga Alloh memudahkanmu. Untuk sahabatku yang berada dalam masa penantian, teruslah memperbaiki diri dan berdoa agar diberi yang terbaik. Aamiin...
Published with Blogger-droid v2.0.1
Kamis, 08 Maret 2012
Teruntuk Dua Sahabatku Tercinta
Aku lupa kapan pertama kali kita bertemu dan bagaimana pertemuan itu. Sudah berapa lama ya?? Waktu telah membuat hati kita begitu dekat, ya walaupun terkadang ada suatu hal juga yg saling kita sembunyikan. Kebersamaan ini begitu indah aku rasa. Aku juga dulu punya sahabat-sahabat seperti kalian, tapi bersama kalian aku lebih bisa memahami banyak hal. Masa sekarang ini, memang kita butuh spirit lebih. Di sela tekanan dari sana-sini, kita masih punya "pekerjaan rumah" yang belum kita selesaikan. Aku merasakan penatmu, jenuhmu, gundahmu... Tanpa kalian katakan, aku bisa merasakannya. Sms-sms yang melukiskan setiap perasaanmu, akupun merasakannya. Akupun menitikkan air mata saat membacanya. Dan akan kubalas sms itu dengan seuntai kata penyemangat, yang sebenernya kata penyemangat itu terutama kutujukan pada diriku. Sahabatku, mari kita selesaikan bersama "pekerjaan rumah" kita, semoga Alloh memudahkannya. Love you sista...Keep struggling and fighting, let's strenghten our spirit.
Published with Blogger-droid v2.0.1
Jumat, 09 Desember 2011
Keluarga Ideologis
Beberapa bulan yang lalu pernah baca sebuah artikel di sebuah majalah yang kalo gak salah judulnya Bukan Hanya Istri Biologis. Di majalah itu disampaikan bahwa menjadi istri yang bersuamikan laki-laki yang punya prinsip dalam hidupnya, tidak cukup menjadi istri biologis saja tapi jadilah istri ideologis. Prinsip dalam hidup yang dimiliki oleh sebuah keluarga yang melazimi dakwah dan jihad sebagai jalan hidupnya tidak cukup hanya suami yang memahaminya. Resiko yang mesti dihadapi harus dipahami oleh istri dan anak-anak. Maka perlunya sedari awal seorang laki-laki dan wanita yang hendak membangun sebuah rumah tangga, bercita-citalah menjadikan keluarganya kelak menjadi keluarga ideologis.
Seorang istri harus memahami bahwa iqomatuddin adalah pilihan hidup dirinya dan suaminya. Sehingga tidak egois hanya mementingkan kehidupan pribadi dan keluarga, tetapi ada kepentingan umat dan kepentingan bersama yang juga harus dipentingkan. Kesadaran tersebut tidak akan terbangun ketika tidak ada diskusi antara suami istri. Ngobrol-ngobrol atau diskusi di rumah jangan hanya ngobrol masalah ekonomi, pekerjaan, anak-anak atau masalah rumah tangga lainnya. Tapi, untuk membentuk sebuah keluarga ideologis perlu adanya diskusi-diskusi ideologis di rumah yang melibatkan suami istri dan pastinya anak-anak dilibatkan dalam diskusi tersebut sesuai dengan tingkat kefahaman mereka atau setelah mereka beranjak dewasa dan memahami konsep rumah tangga yang dimiliki oleh orang tuanya. So, persiapkan diri menjadi istri ideologis! Agar kelak dapat membangun keluarga ideologis dan dapat mencetak anak ideologis.
Jumat, 02 Desember 2011
Rasa Lelah Hilang dengan Setetes Air Mata
Aku baru pernah dua kali melihat seorang laki-laki dewasa menangis. Laki-laki itu adalah papahku. Pertama, saat papahku teringat oleh mbah putriku yang telah dipanggil oleh Alloh lantaran sebuah musibah yang tidak kami duga sebelumnya. Beliau menangis bukan saat mbah putri meninggal, tetapi saat lebaran pertamanya tanpa mbah putri. Kami semua terkejut saat tiba-tiba tangis papahku meledak sesaat setelah kembali dari sholat idul fitri. Ternyata beliau merindukan sosok "mamak" [panggilan papahku pada mbah putri]. Kedua, sekitar sebulan yang lalu. Papahku jatuh di depan rumah karena kecapean dan setelah dicek ke dokter, gula darahnya lumayan tinggi. Saat jatuh, aku dan mamahku tidak berada di rumah. Sesampainya di rumah aku tengok beliau yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Dan saat itu aku melihat meneteskan air mata. Aku yakin, menangisnya bukan karena menahan sakit akibat jatuh, tapi karena beliau sedang butuh diperhatikan. Jadi menurutku, laki-lakipun butuh menangis untuk mengekspresikan perasaannya. Tapi aku gak tahu pasti apakah yang laki-laki rasakan saat menangis itu sama dengan yang wanita rasakan saat menangis, karena aku belum pernah menanyakan tentang hal ini pada laki-laki.
Jumat, 19 Agustus 2011
Komitmen
Perjalanan seorang akhwat gak bisa ditebak. Mau selamat atau tidak, tidak ada yang menjamin. Mau terus melaju atau berhenti, semua tergantung kekuatan dan kesungguhan yang dimiliki. Adekku, hingga detik ini kalian berjalan, aku bangga dengan komitmen yang kalian sampaikan padaku,. Tak perlu kau pertanggung jawabkan padaku apa yang kalian ucapkan tadi malam, karena aku bukanlah siapa-siapa. Tapi kepada Allohlah kalian harus pertanggung jawabkan. Bukan lagi saatnya main-main dan santai-santai, segeralah beraksi!!! Semoga kalian selalu ingat apa yang kalian ucapkan. Ketika salah seorang dari kalian lupa komitmen kalian, salinglah mengingatkan dan menguatkan. Semoga Alloh mengistiqomahkan dan meneguhkan kita di jalan-Nya. Aamiin...
I do love you all, my beloved sisters...
I do love you all, my beloved sisters...
Kamis, 11 Agustus 2011
Iman Gak Ngedrop 'n Gak Krisis Ruhiyah Saat "Libur"
Buka-buka folder di laptop, nemu file materi yang dulu aku buat untuk ngisi acara keputrian. Kalo gak salah materi itu aku ambil dari buku yang judulnya "Wirid Wanita Haid" karangan Ustadz Abu Umar Abdillah. Buku ini pas banget buat muslimah. Udah pernah baca buku ini belum??? Kalo belum, niy aku kasi tau...kalo kurang lengkap, beli 'n baca sendiri ya...
Telah menjadi fenomena, ketika seorang muslimah kedatangan “tamu”nya, ia mengalami krisis ruhiyah. Saat dilarang sholat dan shaum, seakan semua pintu ibadah telah tertutup baginya. Sehingga aktivitasnya di saat haidh berkisar antara perkara-perkara yang sia-sia atau bahkan untuk yang haram. Sudah maklum, ketika nafsu tidak disibukkan dengan kebaikan, maka nafsu akan menyibukkannya untuk keburukan.
Hal ini menyebabkan ruh menjadi kering, hati menjadi keras, dan keyakinan menjadi lemah. Godaan dan gangguan setan serasa demikian mudah membobol benteng pertahanan imannya. Bahkan sering kita dengar, seorang wanita yang taat terkena kesurupan jin atau sihir di saat sedang haidh.
Jumat, 01 Juli 2011
Just For My Beloved Sisters
Beberapa hari yang lalu baca postingan berjudul "katakan cintamu dengan bahasa pascal" di blog ahmedfikreatif. Aku yang sama sekali gak ngerti tentang pemrograman jadi penasaran pengen bikin. Iseng-iseng aku bikin dan ini kali pertama aku pake pascal. Aku search download-an free pascall trus aku instal. Dengan sedikit utak-utik akhirnya jadi juga. Aku buat ini spesial buat sahabat-sahabatku, sila download di sini ucapan tulus cintaku untuk kalian.
Langganan:
Postingan (Atom)








